Dibandingkan strategi lainnya, promosi lewat e-mail marketing di Indonesia tampak tak semasif dengan media sosial atau bahkan aplikasi chatting. Tingkat awareness-nya yang relatif rendah pun membuat para pebisnis enggan memakai surel sebagai media utama pemasaran mereka.

Selain itu, ada sejumlah anggapan yang membuat e-mail marketing kurang diminati. Kira-kira, mitos dan fakta apa saja yang melingkupi strategi tersebut sampai belum banyak diterapkan di Indonesia?

  1. Jarang ada yang membuka e-mail

Tahukah Anda bahwa ada sekitar 34% penduduk Indonesia yang mempunyai e-mail, mengaksesnya, hingga memakainya untuk korespondensi? Dengan penerapan strategi yang tepat, bukan tidak mungkin persentase tersebut naik sehingga membuat e-mail menjanjikan buat dijadikan media pemasaran.

  1. Tak memakai e-mail untuk transaksi

Anggapan ini tak sepenuhnya salah kalau Anda belanja di e-commerce. Namun, ada beberapa online shop atau aplikasi tertentu yang mengirimkan detail pembayaran ke e-mail. Hal ini yang membuat Anda mau tak mau membuka surel meski hanya untuk mengecek tagihan atau konfirmasi belanjaan.

  1. Hanya membuat e-mail untuk media sosial

Sebagian besar media sosial, termasuk Facebook dan Twitter, masih mengharuskan pengguna untuk memasukkan alamat surel. Namun, bukan berarti mereka hanya bikin e-mail buat login ke jejaring sosial, lho. Masih ada yang memakainya untuk berkirim tugas atau menyebarkan newsletter.

  1. Tak mau diserang spam e-mail

Surel akan ditandai sebagai spam karena Anda menerimanya tanpa izin atau lupa mendaftarkannya. Dalam hal ini, benar adanya kalau penduduk Indonesia, atau bahkan di negara-negara lainnya, tak mau kena spam surel. Anda sendiri bisa memblokirnya untuk mencegah masuknya spam.

  1. Enggan memasukkan e-mail ke formulir

Ketika mengisi survei atau formulir tertentu, ada kalanya Anda diminta mencantumkan alamat e-mail. Ada beberapa orang yang keberatan, ada pula yang bersedia mengisinya. Alasannya bisa beragam, dari tidak merasa aman, memang tak punya e-mail, atau malah lupa karena lama tak memakainya.

  1. Lebih praktis memakai aplikasi chatting

Benar adanya kalau berkomunikasi lewat aplikasi chatting lebih praktis, termasuk saat bertransaksi. Hanya saja e-mail dinilai lebih ‘sopan’ kalau Anda ingin mengirimkan penawaran lebih panjang atau detail penting yang terlalu riskan apabila dibagikan melalui pesan singkat.

  1. Bukan strategi yang efektif di Indonesia

Rendahnya awareness pemasaran lewat surel adalah faktor yang sebenarnya membuat strategi ini belum dikenal banyak. Maintenance maksimal dan pendekatan yang tepat akan membuat marketing lewat surel bisa seefektif saat Anda menggunakan media sosial.

Jadi, apa Anda masih ragu menggunakan e-mail marketing sebagai bagian dari promosi? Jika tertarik, tak ada salahnya untuk memakai surel selama Anda mengimbanginya dengan cara yang sesuai. Selamat berbisnis!